MACET

 Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang kian modern, otomatis semakin kompleks pula problema yang datang silih berganti. Semakin tipisnya nilai etika dan kesabaran serta berkembangnya rasa egois yang ada pada diri manusia membuat semakin parahnya problema yang ada. Solusi yang telah ada seakan tidak menjadi obat untuk menyelesaikan masalah yang ada. Aturan yang diberlakukan untuk ditaati justru dianggap sebagai kekangan yang berasal dari pihak pemerintah. Diujung cerita, masalah yang ada kebanyakan menemui jalan buntu.

Salah satu sisi masalah yang terjadi terdapat dijalan raya, khususnya jalan raya ibu kota dan sekitarnya dimana tingkat kesemrawutan yang ada sudah sangat parah. Hal ini terjadi Karena sumber masalah ini berasal dari berbagai sisi dan kalangan. Kurang kesadarannya para pengendara pengguna jalan, fungsi aparat penegak hukum yang masih jauh dari kata tegas dan maksimal serta aturan dari pemerintah seakan hanya menjadi sebuah bayang-bayang. Akhirnya timbulah satu kata yang sangat menakutkan, membosankan sekaligus menjengkelkan yaitu MACET.

 

Apa saja yang sudah dilakukan pemerintah? Jawabanya adalah BANYAK. Aksi yang dilakukan pemerintah mungkin sudah tidak terhitung. Aturan jalan raya yang telah ada sebenarnya cukup jelas dipahami, penambahan aturan dan pengembanganya pun cukup baik. Entah karena birokrasi berbelit-belit, entah karena kurangnya penerapan dilapangan atau karena sosialisasi yang kurang malah yang ada aturan ini hanya menjadi bayang-bayang, sehingga aturan yang ada tidak berjalan dengan efektif karena tujuan yang ingin dicapai kurang berhasil.

Mungkin jika pemerintah berani mengambil tindakan lebih untuk dapat mengurangi volume kendaraan yang ada dijalan kemacetan yang ada mungkin dapat diminimalisasikan. Missal dengan melakukan pembatasan penjualan kendaraan baru pribadi (roda dua dan roda empat) pertahunnya di ibukota dan sekitarnya, menyediakan transportasi masal yang aman, nyaman, tepat waktu dan murah. Untuk tindakan lebih ekstrim dari pemerintah mungkin dengan membuat kebijakan tarif parkir yang cukup mahal untuk tempat perbelanjaaan atau dengan mencabut subsidi bahan bakar HANYA untuk kendaraan pribadi (roda dua dan empat). Dengan catatan pemerintah telah menyediakan sarana transportasi masal yang dapat diandalkan masyarakat sebelumnya.

Bagaimana dengan kinerja aparat penegak hukum dilapangan? Jawabanya adalah KURANG TEGAS. Seperti telah mendarah daging, dimana ada pelanggaran lalu lintas hampir selalu ada saja  oknum-oknum yang seakan tak pernah kenyang dengan uang suap dari elaku pelanggaran hokum. Surat tilang yang dimiliki oknum polisi adalah senjata utama untuk melakukan praktik ini. Kesadaran pengendara akan praktik suap ini semakin memperparahnya budaya suap-menyuap dijalan raya. Walaupun tidak semua aparat kepolisian yang berprilaku seperti itu. Contok praktik suap dapat dilihat disini.

Saran dari penulis untuk dapat menghilangkan praktik suap di jalan raya dan mungkin dapat membuat jera pelaku pelanggaran lalu lintas adalah dengan membuat kebijakan baru untuk menghukum pelaku dengan menyuruh push-up minimal 30 kali atau jalan jongkok minimal 15 meter jika pelaku tidak ingin mendapat surat tilang. Dengan begitu uang Negara tetap aman, pelaku cukup jera dengan pelanggaran yang dilakukan karena merasa malu dan lelah setelah dihukum.

Bagaimana perilaku pengendara di jalan saat ini? Mayoritas dari pengendara di ibu kota Jakarta saat ini sangat minim akan kesadaran untuk tertib di jalan raya. Perilaku seperti menerobos lampu lalu lintas saat lampu masih menyala merah, melebihi garis stop saat lampu masih menyala merah, menggunakan trotoar / jalur khusus busway sebagai jalan alternative menerobos macet dan lain-lain. Budaya berkendara yang sangat bobrok ini mungkin akan selalu abadi jika aparat kepolisian tidak bergerak untuk mendidik para pengendara untuk bersikap lebih tertib di jalan raya. Masih banyak hal yang tidak akan pernah habis jika hanya disebutkan satu per satu tanpa adanya tindakan perubahan sikap untuk lebih baik dan tertib dari masing-masing pribadi. Intinya dalam menghadapi masalah macet di jalan adalah dengan menonjolkan sikap sabar, tenang dan slalu taat aturan yang ada.

Mohon maaf jika ada kesalahan bahasa dan penulisan yang kurang tepat. Penulis hanyalah seorang manusia biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s