suap-menyuap

Bingung dengan judul diatas? suap-menyuap disini bukan seperti pasnagn pengantin diatas singgah sana pelaminan yang dengan mesranya memasukan makanan ke mulut pasangannya atau seperti seorang ibu yang memberi makan anaknya dengan rasa penuh kasih sayang kepada anaknya yang memang belum bisa makan dengan tangannya sendiri. Suap-menyuap disini diartikan sebagai pemberian uang kepada seseorang dengan maksud terselubung.

Suap-menyuap seakan telah menjadi budaya di Indonesia belangan ini. Dengan tujuan untuk mempermudah urusan seseorang karena tersangkut suatu kasus di kepolisian, seseorang dengan mudahnya memberikan “uang pelicin” agar masalah yang telah diperbuat menjadi ringan. Jangankan kasus besar, kasus kecil pun terkadang membutuhkan aksi ini. Bagaimana tidak, dalam kasus pelanggaran hukum di jalan raya saja, seseorang akan lebih memilih untuk berdamai dengan polisi terkait dengan menyelipkan sejumlah uang ke dalam saku polisi agar surat-surat / kendaraan pengendara tidak jatuh ke tangan polisi. Karena apabila sampai jatuh ke pihak kepolisian, birokrasi yang akan berjalan akan sangat memberatkan pelaku pelanggaran hukum. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan kepolisian, namun terkadang seekor kucing lapar akan memakan nasi putih dalam ruang gelap karena kebutuhan perutnya. Aksi ini sebenarnya tidak perlu dilakukan karena secara perlahan dapat merusak moral bangsa ini yang kian lama semakin bobrok.

Dalam hal Pemilu, aksi ini pun kerap kali dilakukan oleh para calon pemimpin dengan tujuan agar mendapat kursi kepemimpinan. Politikus memang sudah sangat hafal dengan kondisi perekonomian masyarakat di Indonesia. Dengan pecahan uang Rp. 20.000 saja, calon pemimpin sudah bisa mendapatkan satu suara. Jadi strategi ini memang masih sangat ampuh dijalankan di negara ini. Kondisi ini sangat memprihatinkan, apabila kita menyepakati pemberian tersebut maka kita sama saja memilih calon mafia hukum secara langsung untuk menduduki kursi kepemimpinan. Aksi ini sangat sulit dihentikan di negara ini karena memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat dalam proses pemilu. Tak jarang saya mendengar komentar menyedihkan di masyarakat apabila ditanya tentang “siapa orang yang cocok dipilih?”. “kalau saya sih pilih yang ada uangnya saja”, itulah komentar yang pernah saya dengan dalam bermasyarakat. Seakan-akan telah menjadi cermin budaya masyarakat dalam melakukan pemilu.

Aksi suap-menyuap biasanya dilatar belakangi untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal ini mungkin dapat diistilahkan sebaga uang tutup mulut. Selain itu aksi ini juga bertujuan untuk memuluskan keinginan seseorang untuk mendapatkan sesuatu hal yang diinginkan (contohnya dalam pemilu). Cara ini sangat tidak dianjurkan dalam bermasyarakat karena dapat merusak moral.

Menurut saya, aksi suap-menyuap ini dapat dihilangkan dengan menanamkan rasa kejujuran dalam hati generasi penerus bangsa. Mungkin saja dengan sikap jujur seseorang dapat menolak aksi ini. Oleh karena itu para orang tua harus dapat mendidik anak-anaknya untuk selalu bersikap jujur sebagai dasar perilaku kehidupan sehari-hari. Alangkah indahnya bukan apabila kelak bangsa ini terbebas dalam perilaku ketidak jujuran. Dengan kejujuran, seseorang akan sangat bersahabat dengan sikap tanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s